AGAR RAMADAN KITA BERBEDA


Setelah segala luapan kerindun itu tersampaikan. Setelah ratusan bulir air mata tercurahkan. Setelah segala harapan dituangkan. Saatnya kita membuktikan kejujuran; seberapa keras rindu kita pada sebuah pertemuan.

Saudaraku, kerinduan kita pada Bulan Ramadan tidak akan cukup dengan menangisi penungguan, akan tetapi harus dibarengi dengan simpuh rendah ketundukan. 

Rabb yang kita minta agar mempertemukan kita denga bulan Ramadan, adalah Rabb yang membuka pintu surga di bulan Ramadan, maka jangan melemah, sungguh Allah tahu hati siapa yang jujur dalam rindunya dan siapa yang hanya termakan euforia.

Saudaraku, berbahagialah.

Berjuanglah, dan jujurlah.

Sungguh tak akan merugi jiwa yang jujur pada Ilaahi.

Selamat Menikmati bulan indah ini saudaraku.

Tetap hadirkan sensitivitas kita di kemudian hari, jangan mati sebelum Ramadan pergi.

Waffaqanallah.


Abu Hatim di kota Madinah.

1 Ramadan 1443


Setelah kami menyebar tulisan ini, datang beberapa permintaan untuk menulis apa yg mesti dipatrikan ketika awal Ramadan menjelang.

Maka, kami menulis : 


Walaupun hari ini kita masih berada di awal bulan Ramadhan, ketahuilah bahwa hari hari ini akan dengan cepat berlalu, malam nya akan cepat pergi. 

Maka, manfaatkan dengan sebaik baiknya setiap detik yang ada. Nikmati setiap momen yang tercipta. Bisikkan kepada diri kita "wahai jiwa yang lemah, penuntut segala rehat nan indah. Mengapa kau masih bermalas? Bukankah ini Ramadan terakhirmu? Tak ada satupun jaminan untuk kau hidup hingga Ramadan yg akan datang? Bangunlah, tegaklah"

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan kepada Ibnu Umar,

كن في الدنيا كأنك غريب أن عابر سبيل

 "jadilah engkau di dunia ini laksana orang asing atau pengelana yang tengah beristirahat".

Kemudian Ibnu Umar menyempurnakan nasehat tersebut dengan mengatakan : " Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu petang menjelang, kalau kau berada di sore hari jangan tunggu pagi datang.... "

Saudaraku...

Kita adalah orang asing di tengah tengah bulan mulia ini, kitalah pengelana yang sedang menikmati teduhnya naungan pohon ditepian jalan. Kita berhenti sejenak, untuk kemudian beranjak. 

Letakkan di pikiran kita, aku tak akan lama di sini, lantas mengapa tak aku nikmati setiap kesempatan yang telah diberi? 


Saudaraku.. 

Jangan pernah berangan aku akan sempurnakan amalanku di Ramadan tahun depan, masih banyak Ramadan lain yang dapat aku nikmati. 

Atau, mari kita sesuaikan dengan perkataan Ibnu Umar; kalau Kiranya ada waktu amal ketika pagi hari, jangan beralasan bahwa Ramadan lebih besar pahalanya ketika menghidupkan malam. Beramal sekarang!! Atau tidak sama sekali. 

Jika ada kesempatan beramal di malam hari, jangan beralasan, ibadah di saat siang dan tengah berpuasa akan bernilai lebih. Beramal sekarang!! Jangan ditunda. 

Semoga bisikan dengan sedikit hentalan itu bisa menjadi pemantik buat diri kita di saat lalai di momen ini. 

Momen yang tak pernah pergi dengan jaminan akan kembali. 

Momen yang setiap dilepas, tak akan berkata esok masih bisa waktu untuk bergegas. 


Sekarang waktunya. 

Ini yang terakhir. 


🖋️Abu hatim di 25/611, 2 Ramadan WAS.

Terinspirasi dari nasehat Syaikhuna Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al badr pagi hari ini. 

☀️Di bawah 37°C langit kota Yastrib.


Seluruhnya di : https://t.me/tulisanfakir

Post a Comment

0 Comments