MENJAWAB GUNDAH


Sudah berapa lama sejak tulisan yang mengangkat tema perempuan naik ke postingan blog ini? sudah lama mungkin.

Hakikatnya, tulisan ini muncul setelah sekian cerita hidup seorang teman terlontar dalam salah satu sesi ngobrol di sebuah rendozvous. Kami berbpkir kenapa tidak sekalian kami kukuhkan saja hasil obrolan kami tersebut dalam sebuah tulisan, siapa tahu ada yang punya kegundahan yang sama, dan bisa sedikit mendapatkan jawaban dalam rangkai kata tersebut. Maka dengan bismillah, kami menulis beberapa hala yang masih segar dipikiran kami,

Seperti yang kita tahu, tak ada fitnah terbesar bagi seorang lelaki melainkan wanita. Dan sering kali, ketika menuliskan tentang perempuan dan cinta, maka tinta hitam meja belajar tak akan cukup untuk menuliskan, hanya saja, karena beberapa isu perlu diangkat, ada baiknya kami kompilasikan beberapa judul tulisan tentang cinta dan perempuan di bawah ini :

__________________________________________

  • MENJAWAB TANYA

Pertanyaannya apa?

Jadi begini, salah seorang teman bertanya pada saya lewat salah satu sosial media, “Mengapa saya bisa begitu kuat bertahan atas rasa cinta saya kepada seseorang, sudah berlalu tahunan, tapi hati saya masih setia, sulit untuk berpaling, apakah ini tanda kebaikan?

Baiklah, saya coba jawab.

Pertama, apakah Anda sudah menikah?

Kalo jawabannya adalah sudah, maka semoga itu adalah pertanda kebaikan, dan jawaban selesai.

Kalau jawabannya adalah belum, maka ini yang patut kita cermati.

Syaithan itu teman, adlaah makhluk Allah yang memiliki seribu satu cara untuk menyesatkan ummat manusia. Termasuk salah satu caranya, menjatuhkan seseorang kepada sebuah hubungan cinta yang terlarang.

Mengapa saya katakan terlarang? Teman pikir saja sendiri, jika dua insan yang berbeda gender dipertemukan dan disatukan oleh satu perasaan, namun tak terikat dengan ikatan pernikahan, apa ada yang menjamin mereka bisa menjaga jarak sebagaimana perintah agama? saya rasa tidak.

Tidak pun berduaan di alam nyata, mereka sangat bisa berduaan di alam maya. Chattingan, telponan, bahkan Vidio callan. Berbagi cerita, berbagi rasa, berbagi duka. Aduhaai, akan terasa hebat rasanya.

Dan memang itulah tugas syaithan, teman, mempertahankan sebuah hubungan yang menyelisihi syariat islam yang hanif ini. Membuat seolah hubungan tersebut adlah hal wajar antar anak manusia, padahal nyatanya melanggar larangan Rabb penciptanya.

Rasa “setia” yang ada pada keadaan tersebut, kalau tidak pantas kita namakan dusta, maka kata tipuan sangat pantas untuknya.

Juga, rasa demikian, sebenarnya punya pengaruh cuku besar nantinya, bagaimana itu?

Ketika seseorang sudah jatuh hati kepada lawan jenisnya, kemudian berlalu tahun demi tahun, dan hatinya tak pernah dipalingkan ke lain orang, maka sangat besar kemungkinan adanya penyakit ‘isyq di sana. Dan tentu itu bukan sebuah kebaikan.

‘isyq ini teman-teman, dapat menutup orang dari banyak kebaikan. Bisa dengan tertutupnya ia untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik, namun karena hatinya tadi sudah tertaut, apa mau dikata, harus dia yang kelak menjadi pasangan hidupnya.

Oh ya, satu lagi. Rasa “setia” yang dalam keadaan begini ini, sangat rentan diselubungi modal-mdoal dusta. Betapa banyak wanita yang terpedaya satu pria, kemudian jatuh hati, tak dapat berpindah ke lain hati, lalu akhirnya tersiksa dimakan rasa setia itu sendiri. karena ternyata pria yang ia cintai, tidak hanya bermesra dengan dia seorang, tapi dengan banyak wanita. Semoga seluruh teman-teman dijauhi dari segal bentuk makar ini.

Teman-teman yang semoga senantiasa dikuatkan rasa cintanya kepada Allah. Urusan jatuh cinta sebelum menikah ini, sebenarnya urusan yang cukup rumit. Bukan bermakna bahwa agama ini mengharamkan rasa cinta tersebut, namun ketika rasa cinta, rasa kagum itu seudah berlebihan, sehingga menjadikan mata ini gelap dari melihat hal-perihalnya, maka tentu ini akan menjadi musibah besar kelak.

Dua insan yang salinng bertaut dengan ras setia ini, siapa yang akan menjamin kelak jika mereka menikah, rasa setia itu akan tetap ada? kecuali degan rahmat Allah.

Ketika seorang sudah berada di fase rumah tangga, sudah berstatus sebagai suami dan istri, maka tugas syaithan akan berubah. Dari yang tadinya melanggengkan sebuah hubungan yang tidak benar, menjadi merusak sebuah hubungan yang suci.

Maka, teman-teman. Jangan tergiur kata setia sebelum janji akad itu terucap. Apa yang begitu indah di hari sebelum pernikahan, itu semua ada andil syaithan di dalamnya.

Maka wasapadalah para wanita, maka berhatilah dalam berucap wahai pria.

Semoga Allah mengampuni dosa siapa saja yang pernah masuk dalam fase tersebut, Dan semoga Allah melanggengkan hubungan mereka yang sudah sah menikah, yang sudah keluar dari fase mengerikan tersebut.

Akhir kata, Tak ada setia sebelum KUA.

______________________________________

  • TENTANG PIKIRAN MENIKAH DAN POLIGAMI 

Aih, malam ini secara tidak sadar aku sudah menumpuk banyak tugas. dan hampir keseluruhannya harus dikumpulkan sesegera mungkin. benarlah, taswif adalah sifat terburuk yang sering menjangkiti seorang pelajar.

selamat, anda sampai ke tulisan ini. aku hargai eufort kalian untuk sampai di sini.

adakah sesuatu yang aku jual? yang kiranya dapat kau nikmati atau bahkan kau beli?

akupun tak tahu.

apa yang kiranya hendak aku bagi malam ini? kelas zoom baru saja usai, jam sudah menunjukkan pukul 22 lebih sedikit.

oke, aku coba sedikit berbagi tentang apa yang akhir akhir ini sering aku dengar. ya, sesuai judul, ini adalah tulisan tentang poligami.

Poligami, istilah yang sering sekali menjadi bahan cerita bapak bapak yang telah beristri, bahakan kalangan penunut ilmu pun tak luput dari itu.

nah, ini yang ingin aku bagi malam ini, apa memang tak ada bahan lain untuk dibahas selain permasalahan poligami? aku tidak sedang berbibacara tentang hukumnya, tidak pula kiat kiatnya, yang aku bicarakan adalah, mengapa para thalibul ilmi pun suka sekali membahas ini? bukankah masih bnayak bahasan lain yang lebih butuh untuk mendapat tempat di setiap majlas kita?

ok, ok, clear sudah kalo hukum poligami memang sunnah dan sangat dianjurkan, tapi kan tidak bisa dengan ujuk ujuk langsung beristri dua, tiga bahkan empat. harus punya kesiapan yang matang, tak cukup tahu hukumnya, tahu kemuliaannya, tahu pahalanya, padahal tanggung jawab apa yang datang setealh itu amat sangat besar.

daaaan, lebih disayangkan lagi, ketika yang membicatrakan ini adalah para pelajar yang menikah satu istri saja belum, ok kalau pembahsan yang mereka bahas adalah sekitaran ilmu fiqihnya atau yang lainnya, tapi, yang sering dibahas malah sebaliknya, nyebut ustaz ustaz yang sudah berpologiama, bermimpi punya istri yang ingin dimadu, dan setumpuk khayal lainnya. apa memang sudah semua kitab para ulama yang kita baca, sehingga dengan mudah kita mengeyampingkan apa yang paling penting buat kita?

ini naseaht sebenarnya untuk saya pribadi, untuk menjauhkan majlis dari berbincang tentang pernikahan, poligami, atau hal hal yang untuk saat ini kurang berfaedah.

bercerita tentang obrolan seputar penikahan, (boleh dong sedikit, setelah muqoddimah di atas), entah mengapa akhir-akhir ini, keinginan segera menikah itu lenyap. iya, benar benar tidak bergairah membincanglan tentang pernikahan. bukan tak berminat, tapi entah mengapa, setelah banyaknya masukan dari orang orang hebat yang saya mintai nasehat, semangat itu mengendur. serius.

oke, let me talk to you sebab atas itu semua.

kita ini, khususnya para pemuda yang jomblo, sering sekali terpikir untuk menikah cepat (sekali lagi, saya tidak sedang membicarakan tentang hukumnya dan anjuran atasnya) karena beberapa sebab; bisa karena memang sudah mendesak sekali, dan ini tentunya banyak faktor yang menyebabkannya, seperti terlalu sering melihat postingan tentang menikah muda di instagram, atau melihat tayangan penuh keuwuan di youtube, atau satu hal yang lain (yang semoga kita bisa dijauhkan dari hal tersebut).

sebab yang lain, yang bisa menjadi alasan gairah menikah cepat itu timbul, karena ilmu, ya kalo di sisi ini, siapapun pasti akan mendukung.

namun, apa yang ingin kita sampaikan disini? untuk setiap kita yang gairah menikah mudanya sedang menggebu-gebu, lihat lagi apa alasan terbesar kita untuk itu? korek leboh dalam, jujur dengan diri sendiri, kalo sudah menemukan sebabnya, maka sleanjutnya cari solusinya. misal : sebab utamanya karena sering melihat postingan penuh romansa , maka coba hilangkan, usaha sekuat tenaga, kalo memang sudah berusaha, kemudian memanfaatkan waktu sebaik baiknya, maka insyaAllah pikiran itu akan hilang.

begini, tulisan ini bukan mengajak teman teman untuk menunda pernikahan. ini hanya ajakan untuk memanfaatkan waktu sendiri dalam kebaikan, memaksimalkan masa lajang, mengeluarkan karya karya. terelbih tulisan ini objek utamanya adlaah saya sendiri, penulis catatan ini.

Kembali pada pemabhasan awal, tenatang poligami. apa pandangan saya tentang poligami? kalo sekiranya da yang bertanya demikian saya jawab.

Poligami adalah syariat yang tak boleh diingkari. urusan mau atau tidak, akan relatuf antar individu. dan kebutuhn sangat berbeda dengan keinginan. pelatih tak mesti terjun bermain bola. jika satu belum digetik jangan berbual jamak dihirup.

muwahhid adalah satu sifat yang terpuji.

narakum ‘ala khair, ilal liqaa

_____________________________________

  • TENTANG WANITA HEBAT

Na’am, wanita adlaah pintu peradaban, dengannya akan muncul orang orang besar.

Sudah berapa kali kami menemukan tulisan yang senada dengan judul di atas. Semua tulisan tersebut mengisyaratkan pentingnya pendidikan kewanitaan. Agar nanti, tercipta ibu-ibu yang siap membangun peraddaban terbaik di masa yang akan datang.

Darinya, kami teringat beberapa nasihat senior terkait menikah di masa thalabul ilmi. Mereka menyampaikan agar senantiasa selektif dalam memilih padangan hidup, karena kelak, yang paling banyak berinterkasi dnegan anak-anak kita ddalah mereka, istri-istri kita.

Coba saja kita beri sedikit perhitungan. Dalam seminggu ada 7 hari, anggaplah dalam 2 hari kita libur bekerja dan bisa fokus kepada anak dan istri. Bersisa 5 hari yang kita harus berjibaku dalam mencari nafkah. maka, paling tidak 12x lima hari anak anak kita akan terus bersama ibunya. Bayangkan saja jika ibu tersebut mendapatakan taufik menjadi ibu yang cerdas dan pandai mendidik, tidak sibuk dengan hp, tidak pula sibuk dengan menontot hal yang tidak jelas, dengan izin Allah, akan muncul anak-anak hebat yang penuh keceriaan, dan dapat mengalirkan energi positif kepada khalayak.

itu kalau sekirang kita bekerja di dekat istri, bagaimana kalo kita yang seedang bekerja atau menuntut ilmu di luar daerah, bahkan negara?? yang pulang hanya sekali sebulan bahkan sekali setahun? berapa hari anak kita akan terus bersama ibunya? banyaaak.

Maka, yang sekarang harus kalian lakukakn, pungkas senior senior kami tersebut. Adalah mepersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menjadi ayah yang baik, ayah yang shalih, lalu kemudian memohon petunjuk Allah agar dipertemukan dengan pasangan yang baik pula. Ingat saja, barang siapa yang jujur kepada Allah, maka Allah akan percaya kepadanya. Jangan hanya karena ingin pasangan yang shalihah lalu kita berjibaku berbuat ketaatan dan mengenyampingkan Allah dalam setiap taat tersebut. Akan tetapi, siapa saja yang menghinakan diri di hadapan Allah, menunjukkan rasa penuh harap, maka Allah akan menganggkat derajatnya.

jadi teman-teman, perkara menikah itu, tidak hanya sebatas Anda bertemu kekasih pujaan anda setrelah juang mendapatkannya, tidak. Itu lebih panjang dan lebih besar dari apa yang di pikiran kita. Tugas kita ke depan banyak, medan dakwah ke depan makin sulit, maka, terus belajar, sunghuh-sungguh, kalau rasanya pikiran ingin menikah masih bisa ditepis dulu, maka hilangkan dulu. sbenetar saja, Setelah itu, barulah kemudian fokus dalam menyiapkan kader kader orang besar. Tak mesi menjadi ustaz, tak mesti menjadi kyai, akan tetapi kader kader yang dapat meninggikan agama Allah dimanapun dan kapanpun mereka berada.

adapaun sekarang, Belajar, belajar, belajar, minta pertolongan Allah.

______________________________________

  • PESAN DARI SENIOR

Evaluasi Seputar Asmara (repost)

Beberapa kali belakangan ini banyak yang bertanya soal urusan asmara kepada saya, umumnya dari muda mudi yang berada di usia menikah. Sebagian lagi orang tua yang anaknya akan menikah.

Beberapa muda mudi yang notabene sudah mengenal hukum syariat dan mengaji justru mendambakan calon pasangan yang masih awam soal urusan agama, saya cukup heran dengan beberapa pernyataan tersebut…..

Mengapa demikian? Dan mengapa jumlahnya tidak sedikit?

Saya mencoba untuk mencari penyebabnya, barangkali bisa menjdi bahan evaluasi para orangtua dan pendidik……

  1. Kurangnya edukasi tentang masalah kafa’ah diniyah imaniyah.
    Simpelnya gini: kita analogikan ada dua pasangan yang satu lulusan SD yang satu Sarjana, udah pasti yang lulusan sarjana akan melihat banyak kesalahan yang dilakukan oleh lulusan SD dan dia gak merasa itu salah karena itulah ilmu yang dia dapat, akibatnya apa? Lulusan sarjana harus mendidik pasangannya dan banyak banyk bersabar.

“Mas kan kita memang dianjurkan untuk membingbing pasangan kita”

Iya bener, tapi kalau sampai harus buka sekolah dan ngajarin pasangan ente A B C sampai Z ya jangan nikah jadi guru aja.

Ini waktunya aksi, membina rumah tangga bersama, nte punya anak, nte jadi bagian sebuah masyarakat, nte harus kerja dll. Bukan kayak di pilem pilem.

  1. Kurangnya edukasi tentang rumah tangga yang ideal menurut Islam, sehingga para remaja tidak punya visi yang jelas tentang seperti apa rumah tangganya kelak.
    Nah, jadi ibarat menyusun puzle, nte harus tahu dulu bentuk rumah tangga yang di Ridhai oleh Allah ‎ﷻ itu kayak apa? Rumah tangga yang ideal itu kayak apa? Baru nte bisa susun bagian-bagian puzle rumah tangga nte.

Lagi, ibarat mau perang, nte kudu nyiapin banyak strategi, ada role play yang harus dimainkan disana, kalau kita lagi krisis, lagi kalah, lagi kehabisan logistik, lagi banyak korban, dan seterusnya…… main bola juga begitu, ada yang jaga gawang, ada anchor, ada flank, ada pivot yang posisinya bisa berubah sewaktu waktu tergantung jalannya permainan….. kapan-kapan futsal bareng deh biar kita ngobrol soal formasi yang ciamik….

  1. Banyaknya tayangan percintaan palsu (fiktif) yang digandrungi para remaja dan mereka menganggap itulah hubungan yang ideal.
    Nah yang ini paling ane benci, nte boleh lihat cerita cinta tokoh tokoh nyata, rapi nte harus pelajari secara komprehensif jangan dilihat pas lagi mesra mesra nya doank….

Manusia terbaik Rasulullah ‎ﷺ pun mengalami lika-liku rumah tangga.

nte kira pilem Korea, sinetron, dkk (dan kroco-kroco nya) itu nyata?!

Bangun bro! Jangan bilang untuk melanjutkan mimpi Kita harus tidur lagi!!!

  1. Kurangnya edukasi tentang penampilan yang menarik, public relationship, dan asmara ala Rasulullah ‎ﷺ yang tentunya tidak kalah hebat dengan kisah-kisah palsu itu.
    Ini juga penting, jangan sampai para Ikhwan dan akhwat ketika dilihat oleh calonnya tidak tampil menarik, baju kusut, muka keriput, bau kecut, udah pokonya nggak ada sedep sedep nya di pandang…..

Udah gitu kalau ngomong putus nyambung nggak jelas udah kayak sinyal hp jaman telepon koin…..

Nte baca tuh penampilan Rasulullah ‎ﷺ dan para shahabat di depan pasangan mereka, wangi, rapi, gagah, berani wes pokoe yang alay Alay lewaaaat…. minggir!

  1. Lingkungan, baik itu keluarga, sekolah, masyarakat, tidak memberikan contoh yang baik terkait rumah tangga yang ideal.
    Para orangtua dan pendidik juga Harus sering sering ngedukasi soal beginian, biar generasi selanjutnya gak putus cita-cita nya, kalau kit belum bisa ideal jangan putus tali idealisme cinta dari anak-cucu kita, ya!

Minimalnya gini caranya, anak laki-laki nte pengen dapat istri kayak ibunya.

Anak perempuan nte pengen dapat suami kayak bapaknya.

Ya intinya orang tua dan guru jadi inspirasi buat anak-anak lah….

Udah gitu aja, sambil nunggu buka puasa, 1 Ramadhan 1442 H

jazakallahu khairan ustazana Ahmad Handika.

_______________________________

Sekian beberapa tulisan kami dan senior kami tentang cinta dan perempuan. Semoga sedikit banyaknya bermanfaat.

O ya, semua tulisan tadi ada di blog pribadi kami yang satu lagi, jika ingin silakan klik pojok author pada menu di atas. Terima kasih.

 
 

Post a Comment

0 Comments