SEBERAT DUKA SANG PASAK

Dingin malam semakin menusuk, aku masih tertatih diantara milyaran butir pasir. jaket malamku adalah angin padang pasir, atap perjalananku adalah gugusan milky way yang begitu cantik. Alzira tahun ini begitu berat, Almoravids sudah tak terbendung.

Aku terhenti disamping pasak ini. berjalan perlahan. Melongok sejenak ke puncaknya, tinggi sekali, pundaknya mencapai langit bahkan merusak keberaturan milky way yang berantakan. Angin padang pasir berhembus, pasak ini diam tak bergerak. kokoh tak bergetar. angin pun mencari jalan memutar.

Bersama tapak kaki yang menapak, aku mendengar suara berat yang lirih berucap. aku menoleh, ada sendu dari pasak yang tak berbicara, dalam kelam malam ia bercerita :

"Dahulu..'' katanya memulai.

"Betapa aku ingat, banyak para pembunuh datang mencariku sebagai tempat persembunyian, berapa banyak anak nakal yang berlari dari kekangan keluarga yang memaksa ini dan itu, aku juga ingat, berapa banyak lelaki yang menjadikan ku tempat melepas segala dosa, beribadah, menjauh dari dunia, lalu fokus mengabdi pada tuhan.entah karena hangatnya aku dalam menyambut, atau karena aku hanya dituakan?; entahlah."

''kau tahu, dengan sejukku, betapa sering aku dijadikan tempat rehat para pejalan malam, tempat berteduh pengembara siang, tempat terlelap setiap mereka yang berjalan dengan diam, maupun mereka yang berkendara dengan tenang. begitu indah, memang" suaranya memberat, ada beban yang selanjutnya ingin ia ceritakan.

"namun, seketika. angin kencang datang merampas segala sejukku, ombak laut di kakiku juga menghepas hangatku, punggungku hancur porak poranda. aku mencari orang orang yang tadi berleha di setiap jenjang kebaikanku. namun apa yang kudapat? sebait kabar menerangkan, bahwa mereka sudah dibawa angin. aku dipisah oleh jarak dan musibah."

'"setelah itu..." kata katanya mulai tak terdengar, aku kira sedihnya sudah memuncak.
"tak ada lagi pepohonan yang bergetar, kecuali sebab gemetarnya aku yang tengah menahan rindu. tak ada lagi  suara merpati yang berciut kecuali sebab tangisku yang terisak, tersiksa sepi dan rasa ingin bertemu"

aku melihatnya mulai tak karuan, matanya mulai memerah, tangan nya terkepal meremas pasir, lalu melemparnya ke udara. semoga sedihnya tak terlihat. "kalau begitu, mengapa kau tak mencoba menumpahkan tangis? apa kau tak lagi terisak mengulang cerita cerita itu? tak ada kulihat air matamu keluar..kenapa?" tanyaku setelah kuatnya rasa penasaran mengalahkan rasa kasihan.
"kau tahu? air mataku tumpah bukan karena aku lupa pada tiap roll cerita itu, tapi beban perpisahan sudah memusnahkan air mataku, hingga, seperti yang kau lihat kini. tak ada lagi air mata yang hendak tumpah. darah saja sudah keluar dahulu sebelum cerita cerita ini kurangkai" jawabnya setengah tegar.

''Aku tak tahu entah sampai kapan aku akan terus begini, melepas kepergian setiap mereka yang datang, tanpa mendapat janji akan kembali untuk pulang, maka hanya rahmat Tuhan yang kini ku harap, hanya tadah tangan ini yang selalu terjulur, semoga waktu rehatku semakin dekat"

kemudian, matanya tertutup. seakan menahan sesuatu untuk tak keluar. walau ku tahu, tak ada apapun yang hendak ditumpah. nasehat penuh ibrah dari sang pasak benar benar mendalam. setiap isaknya, sudah berhasil diterjemahkan oleh pengalaman dan beban yang menyakitkan ; dari menjadi tempat pengaduan setiap pencari peraduan, hingga berharap pertemuan pada kematian karena telah  lama di rudung kesepian.

Aku kembali berjalan diantara gugusan gemintang dan dinginnya malam. ada ratusan mil yang masih harus ku tempuh. sejenak aku berhenti. melihat sang pasak dari kejauhan, lalu berlirih "maafkan aku, sudah datang dan tak memberi janji untuk pulang, karena kita ada untuk terus melanjutkan perjalanan. selamat tinggal. salam".

-----------
  وصف الجبل مع التغيير
oleh Ibrahim ibnu khofajah, melalui lisan tertulis Huzaifah ali akbar.
20 safar 1441. kostan. jakarta.

Post a Comment

0 Comments